Back to detail
Aku Membangun Kebun Binatang Suci di Dunia Lain
Chapter 31 of 73

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 314 min read795 words

Bab 31: Harimau Bertanduk Satu (5)

Mata kuning harimau itu, yang beberapa saat lalu membara dengan amarah yang dahsyat, padam seperti lilin yang ditiup angin. Tubuhnya, yang tadinya tegang dan penuh kehidupan, kini benar-benar rileks. Kakinya lemas.

Tubuh berat Harimau Bertanduk Satu itu ambruk ke tanah dengan bunyi gedebuk yang tumpul.

Benturan itu menimbulkan gumpalan debu yang menyelimuti Clavor dalam kabut kecokelatan. Darah hitam mengalir dari luka di kepala binatang buas itu, melebar di tanah bagaikan jubah merah.

Clavor terdiam sejenak, pedangnya masih tertancap di tengkorak makhluk itu, dadanya naik turun dengan napas berat dan tersengal. Butir-butir keringat mengalir di wajahnya, bercampur dengan darah dari lukanya sendiri.

Ia mencabut pedang itu dengan satu gerakan bersih.

Logam mengeluarkan suara basah saat tertarik keluar.

Clavor menyeka mata pedang pada bulu harimau itu, sebuah gerakan otomatis yang telah diulang ratusan kali selama bertahun-tahun, lalu menghunusnya kembali. Bunyi klik logam menyentuh sarung adalah satu-satunya suara di hutan untuk beberapa saat.

Ia menatap bangkai itu sejenak, kepalanya sedikit miring. Mata cokelat gelapnya menyusuri tubuh binatang itu, menilai kerusakan, nilai kulitnya, dan kualitas tanduk yang patah.

Lalu ia bergumam, hampir seperti pada dirinya sendiri,

"Huh. Itu lebih sulit dari yang seharusnya."

Ia mengusap wajahnya yang berkeringat, membersihkan darah yang menetes dari goresan di pipinya.

"Mungkin aku benar-benar semakin tua."

Clavor menyeka mata pedang pada bulu harimau itu untuk terakhir kalinya dan menyelipkan pedang ke dalam sarungnya dengan gerakan tegas.

"Kamu boleh keluar dari kereta sekarang," katanya tiba-tiba, suaranya tenang dan mantap, menyadari bahwa bahaya telah berlalu. Kata-katanya membawa wibawa seorang pria yang baru saja memenangkan pertempuran dan tahu bahwa medan sudah aman.

Lukas tidak menunggu sedetik pun.

Saat mendengar kata-kata ayahnya, ia langsung bergerak.

Tubuh kecilnya bergerak dengan kecepatan yang bahkan mengejutkan Aurora. Ia melepaskan diri dari pelukan pelindung ibunya, tidak dengan kasar, tetapi dengan tekad yang tidak menerima perlawanan, tangan mungilnya dengan lembut menyingkirkan lengan Aurora.

Ia mencapai pintu kereta.

Kayu pada gagangnya terasa dingin di bawah jari-jarinya. Ia memutarnya dengan gerakan cepat, mengendalikan kekuatannya dengan hati-hati, mengingat untuk tidak merusak apa pun, dan pintu terbuka dengan bunyi berderit.

Lukas melompat.

Kaki pendeknya membawanya keluar dari kereta dalam lompatan yang tidak anggun tetapi cepat. Kakinya yang telanjang menghempas jalanan berdebu, dan ia berlari, berlari secepat kaki seorang bayi berusia sepuluh bulan bisa membawanya, menuju binatang buas yang telah tumbang.

Matanya yang ungu melebar penuh kegembiraan.

Ia sama sekali mengabaikan luka ringan Clavor.

Mengabaikan darah yang mengalir di lengan ayahnya.

Mengabaikan udara yang masih pekat dengan ozon dan aroma sihir yang baru saja digunakan.

Satu-satunya hal yang ada saat itu adalah bangkai Harimau Bertanduk Satu.

Clavor hanya terkekeh pelan, tawa lelah namun tulus, geli melihat rasa ingin tahu putranya yang tak pernah puas.

Lukas berhenti beberapa langkah dari bangkai itu.

Jantungnya berdebar begitu keras di dadanya yang mungil hingga ia bisa merasakan denyutnya di pelipis, di jari-jarinya, dan di lidahnya.

"Besar sekali..."

Harimau itu lebih besar dari harimau di Bumi.

Dengan mudah panjangnya lebih dari empat meter, dari moncong hingga ujung ekor, yang masih bergoyang pelan seolah-olah kematian belum menyadari bahwa tubuh itu telah berhenti. Bahunya yang berotot menjulang hampir setinggi dada Clavor. Cakar-cakarnya, meskipun tergeletak lemas dan tak bernyawa, sebesar tubuh Lukas.

Otot-otot yang terdefinisi dengan jelas berkilau di bawah bulu jingga kemerahan yang dihiasi garis-garis hitam tidak beraturan, bukan garis vertikal seperti harimau Bumi, melainkan pola yang lebih kacau, hampir artistik, mengingatkan pada lukisan gua.

Bulu itu tebal dan rapat, dan di beberapa tempat tampak berkilau metalik di bawah sinar matahari, seolah-olah partikel bijih kecil terperangkap di antara helaiannya.

Tanduk yang patah itu masih memancarkan cahaya biru redup bahkan setelah kematian.

Cahaya itu berdenyut lemah, seperti cahaya kunang-kunang di senja hari, semakin redup setiap detiknya. Pangkal tanduk, yang masih menempel di dahi binatang itu, terasa hangat. Lukas bisa merasakan panas yang terpancar darinya bahkan dari beberapa langkah jauhnya.

"Tanduknya... itu adalah sumber kekuatannya."

Lukas melangkah lebih dekat.

Langkahnya kecil tetapi mantap.

Ia berjongkok di samping kepala binatang itu, kepala yang beberapa saat lalu berisi mata kuning penuh amarah dan niat membunuh.

Kini mata itu terbuka tetapi kosong, seperti dua permata kuning tanpa cahaya.

Matanya yang ungu sendiri menganalisis setiap detail.

Taring panjang dan melengkung, masih bernoda darah kering, berbeda dari taring harimau Bumi, lebih tipis, lebih tajam, masing-masing memiliki alur kecil yang mungkin digunakan untuk menyalurkan racun atau mana.

Cakar yang bisa ditarik, masih setengah menjulur, masing-masing seukuran salah satu jari Lukas, melengkung di ujungnya dan sangat cocok untuk merobek daging.

Telinga bundar dengan jumbai bulu hitam di ujungnya, seperti telinga lynx, tetapi lebih besar dan lebih lincah.

Lukas memperhatikan bahwa bagian dalam telinga ditutupi bulu halus putih, hampir tembus pandang.

Berbeda dengan bulu luarnya.

'Organ sensorik khusus?' pikirnya.

"Ayah..." panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dari hewan itu.

Suaranya tenang, tetapi ada getaran kegembiraan yang sulit disembunyikan di dalamnya.

"Tanduknya... apakah ada sesuatu yang istimewa darinya?"

— End of Chapter 31
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 31 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 31. Please respect spoilers from other chapters.
Aku Membangun Kebun Binatang Suci di Dunia Lain — Chapter 31 — Novtoon