Back to detail
Aku Membangun Kebun Binatang Suci di Dunia Lain
Chapter 4 of 73

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 044 min read875 words

Bab 4: Satu Bulan

Sebulan telah berlalu sejak Lukas Dmond lahir ke dunia untuk kedua kalinya.

Tiga puluh hari.

Bagi bayi biasa, periode itu hampir tidak berarti apa-apa.

Hanya rangkaian monoton menyusui, tidur siang, popok kotor, dan tangisan acak; sebuah eksistensi vegetatif di mana waktu diukur dengan jam di antara waktu makan dan durasi tangisan di malam hari.

Kesadaran bayi normal adalah kabut yang menyebar, kekaburan sensasi tanpa nama, tanpa konteks, tanpa ingatan.

Namun bagi Lukas, bulan itu adalah campuran aneh antara kebosanan mendalam dan penemuan-penemuan kecil.

Ia masih belum bisa mengendalikan tubuhnya sendiri dengan baik. Lengan dan kakinya bergerak tanpa koordinasi, seolah milik orang lain, seolah ada dalang mabuk yang menarik tali tanpa ritme atau tujuan.

Saat ingin meraih sesuatu, lengannya bergerak ke arah yang salah. Saat mencoba menendang, kakinya hanya menghasilkan kejang lemah dan tak berguna.

Yang paling bisa ia lakukan hanyalah menoleh ke kiri dan kanan, menggenggam lemah jari orang yang mendekat, dan tentu saja, menyusu dan tidur.

Banyak tidur.

Tidur datang seperti pasang tak terkendali, menyeretnya ke dalam kegelapan di saat-saat paling tidak tepat.

Ia bisa saja sedang berpikir penting, mencoba mengartikan kata baru, atau menganalisis pola cahaya di langit-langit, dan tiba-tiba matanya terasa berat. Pikirannya larut, dan ia terbangun berjam-jam kemudian tanpa tahu berapa banyak waktu yang telah berlalu.

Rasa lapar juga seorang tiran. Saat perut mungilnya keroncongan, atau lebih tepatnya, mengeluarkan gemuruh kecil yang menyedihkan, tidak ada pikiran yang mungkin terjadi sampai Aurora meletakkannya di dadanya dan susu hangat mulai mengalir ke tenggorokannya.

Itu memalukan, dalam arti tertentu. Ia, yang dulu adalah seorang pemuda mandiri yang memasak makanannya sendiri dan membayar tagihannya sendiri, kini bergantung sepenuhnya pada orang lain untuk nutrisi paling dasar.

Namun sedikit demi sedikit, ia terbiasa.

Tubuh adalah penjara, tetapi pikirannya tetap miliknya sendiri. Dan pikirannya yang berusia delapan belas tahun tidak pernah berhenti bekerja, bahkan terperangkap di dalam cangkang yang rapuh dan tak berdaya itu.

...

Ia sudah mempelajari nama semua orang di sekitarnya.

Aurora adalah ibunya. Wanita berkulit pucat dengan mata ungu yang menggendongnya dengan kelembutan yang hampir mencekik, seolah ia takut dunia akan mengambilnya darinya kapan saja.

Ia menghabiskan sebagian besar hari di sisinya, duduk di kursi goyang dekat jendela, dengan lembut menyanyikan lagu-lagu merdu sambil menyusuinya atau mengganti popoknya. Suaranya merdu, kadang sedih, seolah lagu-lagu itu berbicara tentang hal-hal yang hilang atau tempat-tempat yang jauh.

Sentuhannya selalu hangat dan lembut, dan senyumnya mudah terbit, terutama saat Lukas menatap langsung ke matanya.

Saat-saat itu, ia meleleh, mengeluarkan suara-suara bernada tinggi penuh kegembiraan yang akan ditirukan Judite hanya untuk menggodanya. Lukas merasa bahwa ia mencintainya secara mutlak, tanpa syarat, tanpa tuntutan.

Itu hal baru baginya. Di kehidupan sebelumnya, cinta selalu datang dengan syarat. Bersama Aurora, cinta itu ada begitu saja. Seperti gravitasi, seperti sinar matahari.

Clavor adalah ayahnya. Pria jangkung dengan luka di pipi kirinya dan kehadiran yang mengesankan. Ia jarang bicara, tetapi saat berbicara, suaranya yang dalam memenuhi ruangan seperti guntur dari kejauhan. Ia bukan tipe yang menunjukkan kasih sayang melalui kata-kata atau pelukan, tetapi Lukas telah belajar membaca isyaratnya.

Setiap malam, saat matahari terbenam dan bayangan membentang di sepanjang koridor batu, Clavor mengunjungi kamar itu. Ia duduk di tepi tempat tidur di samping Aurora dan meletakkan tangannya yang besar dan kapalan di atas kepala Lukas.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya diam di sana selama beberapa menit. Matanya yang cokelat gelap seolah menyampaikan sesuatu; kekuatan? Perlindungan? Janji sunyi? Dan Lukas merasa bahwa momen itu sakral bagi pria itu.

Ia sangat menghormatinya, namun masih merasakan jarak tertentu. Seolah Clavor adalah gunung; mengesankan, kokoh, tetapi sulit didaki.

Asmon, kakak laki-lakinya, berisik dan penuh energi. Ia terlihat berusia sekitar lima belas tahun dan bertingkah seperti sepuluh, atau mungkin dua puluh, tergantung harinya.

Ia selalu masuk kamar dengan langkah panjang dan berat, tersenyum percaya diri, dan berbicara dengan nada keras yang membuat Aurora memutar mata dan Judite menutup telinga.

Ia sering menusuk pipi Lukas dengan jari telunjuknya—tidak keras, tetapi dengan keakraban yang hampir mengganggu—dan mengatakan sesuatu yang diakhiri dengan kata "pendekar pedang."

Lukas sudah mendengarnya puluhan kali tetapi masih belum tahu persis apa artinya.

Asmon menggunakan kata itu dengan penuh kebanggaan sehingga Lukas membayangkan itu adalah sesuatu yang penting.

Judite, adik perempuannya, adalah yang paling menghibur di antara mereka semua. Ia menghabiskan berjam-jam duduk di samping boks bayi di atas bangku kecil yang dibuatkan Clavor untuknya, menunjukkan boneka kain yang dijahit Aurora, dan menggambar dengan arang di potongan perkamen bekas. Atau sekadar berbicara padanya seolah Lukas bisa menjawab.

"Kau tahu, Lukas, hari ini aku melihat burung biru di jendela. Biru cerah, seperti bunga di taman Nenek. Kau suka burung? Aku suka. Mereka bernyanyi di pagi hari dan membangunkan semua orang. Ayah bilang bangun pagi itu baik, tapi menurutku itu menyebalkan."

Kadang ia bernyanyi dengan nada sumbang, mencampuradukkan lirik lagu yang diajarkan Aurora. Kadang ia mencoba membuatnya tertawa dengan muka lucu—menjulurkan lidah, memicingkan mata, dan menggembungkan pipi seperti katak.

Lukas merasa itu sangat menggemaskan, dan lebih dari sekali bibirnya melengkung menjadi senyum canggung yang dirayakan Judite seolah ia baru memenangkan perang.

"Bu! Bu! Dia tersenyum! Lukas tersenyum padaku!"

Aurora akan berlari datang, Clavor akan muncul di ambang pintu, dan Asmon akan berteriak sesuatu dari lorong.

Semua orang merayakan senyum itu seolah itu adalah peristiwa ajaib.

Lalu ia akan tersenyum lebih lebar saja dan membiarkan mereka percaya itu adalah tonggak perkembangan bayi.

— End of Chapter 4
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 4 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 4. Please respect spoilers from other chapters.
Aku Membangun Kebun Binatang Suci di Dunia Lain — Chapter 4 — Novtoon