Bab 34 - Yang Hancur dan Yang Kuat
***
"Aku kecewa, Irene."
Marquess Leroy berkata sambil membanting lembar rapor itu.
Selembar kertas ini membuatnya merasa mual di hari yang ingin ia nikmati dengan santai.
Marquess tampak akan berkata lebih banyak, ketika Irene angkat bicara untuk mengungkapkan rasa frustrasinya.
"Ibu, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena kertas ujiannya hilang waktu itu."
"Apa kamu bangga karena kehilangan kertas ujianmu?"
"…."
Irene tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah tanggapan datar tanpa emosi dari Ibunya. Saat ia hanya menundukkan kepalanya, Marquess menatapnya dengan kecewa dan mendesah dalam hati.
"Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan ayahmu tentang rapor ini."
"Ibu…"
"Dengan begini, apa kamu masih bisa memenuhi syarat untuk ujian Penyihir Kekaisaran?"
Berbeda dengan kekhawatiran Ibunya, Irene gemetar dari ujung kepala hingga kaki.
"Aku bisa melakukannya lain kali. Jika aku mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran, aku yakin aku akan memenuhi syarat."
"Apa kamu yakin tidak akan kehilangan kertas ujianmu lagi?"
"Ibu…"
Irene menatap Marquess Leroy dengan ekspresi bingung. Namun, ekspresi Marquess tidak berubah saat ia mendecakkan lidahnya ringan.
"Aku akan menyimpan rapor ini untuk diriku sendiri. Lain kali jika kamu membuat kesalahan bodoh, aku akan memberi tahu ayahmu yang sebenarnya. Jadi, kumpulkan dirimu."
"Ya, Ibu…"
Saat ia mengangguk tanpa daya, Marquess Leroy mengambil rapor Irene dengan kasar, meremasnya, dan meninggalkan ruang tamu.
Irene ditinggal sendirian, ia menelan air matanya sambil menggenggam erat roknya. Perkataan Marquess Leroy masih terngiang di telinganya.
[Lain kali jika kamu membuat kesalahan bodoh, aku akan memberi tahu ayahmu yang sebenarnya. Jadi, kumpulkan dirimu.]
Ia akhirnya mendengar sesuatu yang paling tidak ingin ia dengar hari ini.
'Jika…'
Jika aku membuat kesalahan lagi.
'Apakah aku akan ditinggalkan seperti kakak sulungku?'
Ia ingin percaya bahwa itu tidak benar, tetapi ketika ia melihat suasana di rumah, ia tidak begitu yakin. Bisnis Marquess Leroy berjalan dengan baik, jadi semuanya lancar saat ini, tapi ia tidak tahu kapan atau bagaimana semuanya bisa berubah.
"Tidak…"
Irene melompat berdiri dan berlari ke kamarnya dengan wajah pucat. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah membaca buku dan belajar.
'Aku tidak akan diusir seperti aku bukan siapa-siapa.'
Seperti dirinya tidak berguna, seperti dirinya tidak dibutuhkan.
Ia akan menunjukkan nilainya tanpa gagal, dan mendapatkan kembali kepercayaan serta cinta orang tuanya.
Lalu ia teringat.
[Aku tidak ingin tatapan orang lain menghancurkanmu.]
[Kamu berharga bagiku.]
Itu adalah suara yang ia dengar setiap kali belajar.
Suara hangat yang benar-benar peduli padanya.
"…."
Begitu ia masuk ke kamarnya dan duduk di meja belajarnya, ia terlambat menyadari milik siapa suara itu.
"Kakak Leticia…"
Itu adalah kata-kata yang diucapkan Leticia saat melihat Irene hancur secara mental.
[Aku bangga padamu.]
[Tidak apa-apa untuk membuat kesalahan.]
Tapi…
'Kamu salah.'
Ia tahu nilainya sedang dievaluasi, dan ia tidak bisa berpura-pura tidak peduli dengan tatapan orang lain padanya.
Entah kenapa, hari ini rasanya ia ingin menangis.
Irene menahannya dan membuka buku-bukunya sekali lagi.
***
Begitu mereka tiba di kediaman Achilles setelah Festival Berburu, mereka bertemu Ian. Ia datang menemui mereka di pintu dan tersenyum saat membawakan teh untuk semua orang di ruang tamu.
"Kerja bagus di festival."
"Itu bukan masalah besar. Tidak ada hal lain yang terjadi?"
"Oh, ada seseorang yang datang berkunjung."
Enoch bertanya apakah Ian bosan menjaga kediaman sendirian, tetapi Ian memberikan jawaban yang tidak terduga. Ian memberikan secangkir teh pada Leticia sebelum menjelaskan lebih detail.
"Seios ke sini. Dia benar-benar ingin bertemu Leticia."
"Aku?"
Leticia menunjuk dirinya sendiri dengan heran, dan Ian mengangguk.
"Ya, dia memintamu untuk datang ke Akademi Sihir jika kamu tidak keberatan."
"Terima kasih sudah menyampaikan pesannya, Ian."
Leticia tersenyum dan menyesap tehnya.
'Apa dia sudah tahu kemampuanku?'
Entah kenapa ia merasa gugir dan juga penasaran. Leticia ingin segera pergi menemuinya.
Selama ini, Elle diam-diam menatap Ian sambil cemberut kesal.
"Lain kali, kamu ikut dengan kami ke Festival Berburu. Kamu tidak boleh bosan dan sendirian di kediaman lagi."
"Kamu benar, akan lebih baik jika kita pergi bersama. Sayang sekali."
Leticia dan Elle berbicara seolah mereka kesal, dan Ian berusaha meredakannya dengan permintaan maaf yang canggung.
"Baiklah, lain kali kita pergi bersama. Aku sibuk sekarang, jadi aku akan kembali ke kamarku dulu."
Ian pergi sebelum mendengar jawaban mereka, mereka terkejut melihat dia sudah pergi untuk belajar. Enoch yang diam-diam mengamati adegan itu, perlahan bangkit dari tempat duduknya juga.
"Sebaiknya aku pergi ke Keluarga Kekaisaran sekarang. Aku harus langsung masuk ke pelatihan."
"Sekarang?"
Festival Berburu baru saja berakhir, Leticia terkejut bahwa Enoch mengatakan akan segera masuk ke istana. Enoch tersenyum dan mengelus kepala Leticia untuk menenangkan kekecewaannya.
"Aku akan segera kembali."
"Ya, selamat jalan…"
Enoch menatap Leticia, ia bisa melihat dengan jelas bahwa ia menahan kekecewaannya. Ia sedikit membungkuk dan dengan ekspresi penuh tekad, berkata pada Leticia.
"Jika aku kembali dengan selamat…"
Leticia mengangguk, ia merasa gugup karena mengerti maksudnya.
"Itu sudah terlalu jelas."
"Memelukmu?"
"Bukan itu…!"
Ia mencoba menutup mulut Enoch dengan tergesa-gesa, tapi kata-kata itu sudah terlanjur keluar. Saat Leticia meninggikan suaranya tanpa sadar, ia bertemu mata dengan Elle yang memiliki ekspresi penasaran.
"Elle, ini…"
"Hmm! Aku tiba-tiba ingat ada urusan mendesak."
Elle meninggalkan ruang tamu dengan cepat, sambil berdeham. Enoch tersenyum seolah ia punya banyak waktu, meskipun semua orang tahu ia bersiap untuk segera pergi.
"Hanya kita berdua, jadi mari kita bicara dengan santai."
"Sungguh!"
Leticia berkata sambil memelototinya karena sikapnya yang kurang ajar.
"Aku bilang itu wajar kalau kamu kembali dengan selamat."
"Oh, begitu?"
"Kamu tahu itu, kan?"
"Tidak, aku tidak tahu."
"Bohong."
Ia menatapnya dengan kesal, tetapi Enoch dengan tenang mengabaikannya dan segera melarikan diri.
Baru setelah sampai di pintu kediaman, Enoch menoleh ke belakang dan tertawa.
"Kalau begitu aku akan menantikannya."
"Apa yang kamu harapkan? Tidak, kamu tidak boleh. Tidak mungkin."
"Apa kamu yakin aku tidak boleh?"
Saat ia menggelengkan kepala dengan tegas dengan ekspresi serius, Enoch menunduk seolah kecewa. Melihat sudut mulutnya perlahan naik, jelas bahwa ia sedang dalam suasana hati yang baik dan tidak benar-benar kecewa.
'Aku benci kamu.'
Ia yakin dia sedang bersikap jahat.
Dia ingin memeluknya karena dia menikmati momen itu bersamanya.
'Dia benar-benar pria yang luar biasa.'
Mungkin karena dia tampak memancarkan hawa dingin musim dingin sehingga senyuman kecil pun meninggalkan kesan yang jelas padanya.
Ia merasa terintimidasi dan sekaligus kewalahan saat dia menatapnya dengan intens. Ia tidak bisa berpaling dari mata yang hanya lembut saat menatapnya.
Jika dia terus menatapnya dengan penuh kasih seperti sekarang.
Leticia bergumam pelan, menggenggam erat lengan baju Enoch untuk menyembunyikan getaran di tangannya.
"Jangan tertawa."
"Hm?"
"Seperti itu…"
Jangan tertawa.
Ia merasakan jantungnya berdetak begitu cepat hingga dada Leticia terasa sesak dan sakit.
Tiba-tiba tangan besar melingkupi tangan Leticia.
"Kalau begitu aku akan kembali."
Lengan baju Enoch sedikit kusut karena ia menggenggamnya terlalu erat. Enoch dengan ringan mengelus punggung tangan Leticia sebelum perlahan meninggalkan kediaman.
Sesekali, ia akan menoleh dan tersenyum pada Leticia, tapi entah kenapa ia bisa melihat kesedihan di matanya. Setiap kali mata mereka bertemu, Leticia melambaikan tangannya sebagai balasan.
Tak lama kemudian Enoch menghilang dari pandangan, dan desahan pelan lolos dari bibirnya.
Bisikan Enoch di telinganya sebelum pergi membuat hatinya terasa geli.
[Tidak bisakah kau memelukku seperti terakhir kali? Kali ini sebagai hadiah.]
'Aku bilang padamu.'
Dia semakin berani dari hari ke hari.
Tidak, dia mulai licik.
Tapi itu lebih menjadi masalah baginya, karena dia tidak benar-benar membencinya.
Leticia menggelengkan kepala sambil tersenyum dan perlahan pergi ke dapur.
Hari ini, ia akan membuat kue untuk menenangkan hatinya yang bingung dan bersemangat.
***
Ia membuat banyak kue di dapur, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa diberi.
Ia teringat terakhir kali ketika Elle menikmati tar yang ia buat. Ia pergi ke kamar Elle, tapi ia bisa melihat bahwa Elle sudah pergi beberapa waktu lalu.
Tempat selanjutnya yang ia kunjungi adalah kamar Ian.
Berdiri di depan pintu, Leticia ragu-ragu sebelum mengetuk.
"Masuk."
Begitu mendapat izin, ia membuka pintu dan masuk. Matanya bertemu dengan mata Ian yang berdiri dengan ekspresi terkejut.
"Maaf, aku kira itu Elle."
"Tidak apa-apa. Aku membuat beberapa kue. Mau mencoba?"
Leticia tersenyum lembut dan menunjukkan piring berisi kue di tangannya.
Ekspresi wajahnya saat menatap kue-kue itu tampak acuh tak acuh, tapi tampak ada sedikit kilau di matanya.
"Apa kamu belajar selama ini?"
Leticia meletakkan piring kue di atas meja dan duduk. Ian duduk bersamanya, mengangguk dan menggigit kue. Leticia tidak bisa menahan senyum karena ia suka cara Ian terus memakan kue dengan wajah datar.
Setiap kali melihat Ian, Leticia teringat pada Emil. Kurangnya ekspresi wajah, suara monoton tanpa naik turun, dan perilaku yang terlihat agak kaku.
Tapi sikapnya jelas berbeda.
Waktu yang dihabiskan Leticia bersama Ian cukup baginya untuk tahu bahwa perilakunya kaku karena ia berusaha untuk tidak merepotkannya. Ia bisa melihat di matanya bahwa ia selalu ingin lebih dekat dengan Leticia, dan entah kenapa ia merasa itu menggemaskan.
Ia tiba-tiba teringat sebuah pertanyaan yang ingin ia tanyakan padanya.
"Boleh aku bertanya kenapa kamu bekerja begitu keras?"
Ian, seperti Emil, sedang mempersiapkan ujian Pegawai Negeri Sipil Kekaisaran.
Ia ingin tahu apa yang memotivasi Ian, yang selalu acuh tak acuh, dan mengapa ia mengabdikan dirinya pada belajar sampai-sampai melewatkan Festival Berburu.
"Aku hanya ingin melindunginya."
Apa? Ian melanjutkan sebelum ia sempat meminta klarifikasi.
"Harga diriku dan keluargaku."
"Apa?"
"Aku menyadari bahwa diabaikan adalah hal yang tidak menyenangkan untuk dihadapi."
Awalnya Ian mengira hanya dirinya yang harus khawatir tentang hal itu.
Tapi cara orang-orang memandang rendah Enoch dan Elle, juga Leticia. Itu membuat pikirannya kosong karena terkejut, seperti ia tersandung kakinya sendiri. Tidak, itu membuatnya merasa panas dari ujung kepala hingga kaki.
"Jadi aku bertekad untuk menjadi lebih kuat."
Ia ingin menjadi kuat agar orang lain tidak mengabaikannya.
Ian tertawa, memasukkan kue terakhir ke mulutnya.
Leticia menatap adegan itu, lalu berkata dengan senyuman lembut.
"Ian sudah cukup kuat sekarang."
"Benarkah?"
"Tapi…"
Leticia berhenti berbicara sejenak, lalu perlahan mulai berbicara lagi.
"Sungguh luar biasa melihatmu berusaha menjadi lebih kuat untuk orang-orang yang berharga bagimu."
Ia lupa sejenak bahwa ia menikmati menghabiskan waktu bersama orang-orang yang peduli padanya.
Ia juga memutuskan untuk tidak pernah malu pada orang-orang ini.
Leticia kembali ke kamarnya setelah meninggalkan kata-kata semangat bersama Ian.
Keesokan harinya, ia pergi ke Akademi Sihir untuk menemui Seios. Di sana ia bertemu dengan seseorang yang begitu dikenalnya sehingga lucu bahwa ia tidak menyangka hal ini.
"…."
"…."
Itu adalah Irene Leroy.
*************************************************
Chapter Comments Chapter 34 · this chapter only
0 comments