Back to detail
Aku Membangun Kebun Binatang Suci di Dunia Lain
Chapter 55 of 73

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 554 min read897 words

Bab 55: Ulang Tahun Lukas (3)

Sihir tidak ada di Bumi. Bukan sebagai kemampuan bawaan yang berdenyut di dalam tubuh, menunggu untuk digunakan.

Di sini, sihir tampak seperti sesuatu yang penting.

Dia ingin mempelajarinya, bukan untuk bertarung, bukan untuk menjadi pejuang hebat atau penyihir kuat. Dia ingin belajar demi memahami. Demi melindungi. Demi menciptakan habitat yang lebih baik untuk hewan-hewannya kelak.

’Suatu hari nanti.’ Dia berjanji pada dirinya sendiri.

’Suatu hari nanti, aku harus belajar.’

Lalu tibalah saat pemberian hadiah.

Clavor adalah yang pertama.

Dia berdiri, berjalan menuju keranjang besar, dan mengeluarkan sebuah benda yang terbungkus kain kulit. Bungkusan itu panjang, kira-kira seukuran lengan Lukas.

Dia berlutut di hadapan putranya dan membuka ikatannya.

Di dalamnya ada sebuah belati kecil namun dibuat dengan sangat baik.

Bilahnya terbuat dari baja gelap, dipoles hingga mengkilap. Ujungnya tajam, dan Lukas bisa melihat pantulan sinar matahari di sepanjang bilahnya dalam satu garis lurus. Gagangnya dililit kulit anyaman gelap, dengan permata merah kecil tertanam di pangkalnya, sebuah mirah delima, atau mungkin hanya batu biasa, Lukas tidak bisa membedakannya.

Itu bukan mainan.

Itu adalah senjata asli. Proporsional dengan ukuran Lukas, namun fungsional. Berbahaya di tangan yang tepat.

"Kamu sudah cukup umur untuk memegangnya sekarang." Kata Clavor serius, meski ada kebanggaan di matanya.

"Setelah kamu lebih besar, kita akan berlatih dengan pedang sungguhan. Untuk sekarang, pelajari cara merawatnya."

Lukas memegang belati itu dengan hati-hati.

Bobotnya terasa pas di tangannya. Gagangnya pas di jari-jarinya yang masih kecil. Bilahnya terasa dingin di bawah tatapannya.

’Ini bukan pedang.’ Pikirnya.

’Tapi ini awal.’

Dia tidak punya rencana untuk menjadi pendekar pedang. Hatinya masih milik hewan, milik kebun binatang impiannya.

Tapi dia mengerti nilai dari hadiah ini.

’Perlindungan.’

’Clavor tidak memberiku senjata untuk menyerang.’

’Dia memberiku senjata untuk membela diri.’

"Terima kasih, Ayah. Aku akan merawatnya dengan baik."

Clavor meletakkan tangannya di bahu Lukas dan meremasnya lembut.

"Aku tahu kau akan melakukannya."

Aurora memberinya sebuah bungkusan kecil yang dibungkus kain biru muda, diikat dengan pita satin perak. Pembungkusnya terasa lembut di jari-jarinya.

Di dalamnya ada kalung perak dengan lambang Dmond, serigala berekor tiga yang tergantung pada rantai halus yang tampak rapuh namun ternyata kuat.

"Agar kau tak pernah lupa dari mana asalmu." Ucapnya lembut, matanya berkilau.

"Dan untuk melindungimu ke mana pun kau pergi."

Dia memasangkan kalung itu di leher Lukas.

Logamnya terasa dingin di kulitnya tetapi dengan cepat menghangat karena suhu tubuhnya.

Lukas menyentuh lambang itu dengan jari-jarinya.

Serigala berekor tiga. Simbol keluarga Dmond. Tanda dari keluarga barunya.

"Cantik, Bu. Terima kasih."

"Kamu yang cantik." Jawabnya, mengecup kening Lukas.

"Bayiku."

Akhirnya, Judite memberinya sebuah toples kecil yang diikat dengan pita warna-warni. Pitanya merah muda dan sedikit berjumbai di ujungnya, seolah dia sendiri yang memotongnya.

"Aku membuatnya bersama Helga!" Umum Judite dengan bangga.

"Kue madu dan kenari! Aku sudah mencicipi satu... rasanya enak!"

Lukas membuka toples itu.

Aroma madu dan kayu manis memenuhi lubang hidungnya. Kue-kue itu kecil, bundar, dan dilapisi lapisan tipis gula kristal. Dia mengambil satu dan menggigitnya.

Rasanya manis, renyah di luar, dan lembut di dalam. Madunya kuat dan sedikit berbunga. Kenari yang dihancurkan menambah tekstur. Kayu manisnya memberikan kehangatan.

Dia memakannya dengan kenikmatan yang jelas.

"Enak sekali, Judite. Terima kasih."

Judite tersenyum lebar.

"Kan sudah kubilang! Aku saudari terbaik!"

"Satu-satunya saudari." Koreksi Lukas.

"Saudari satu-satunya yang terbaik!"

Hari itu berlanjut dengan percakapan ringan.

Clavor menceritakan kisah keluarga lama, bagaimana kakek buyut Lukas pernah mengalahkan seorang ksatria penyerbu dalam duel yang berlangsung selama tiga hari. Bagaimana nenek Aurora menjinakkan kuda liar hanya dengan sekali tatapan. Bagaimana lambang Dmond ditempa oleh seorang pandai besi kurcaci sebagai imbalan atas budi yang tidak pernah ditagih.

Aurora dengan lembut menyanyikan lagu pengantar tidur tentang bulan dan bintang, lagu yang sama yang dinyanyikannya untuk Lukas saat dia masih bayi. Suaranya lembut dan melankolis, dan Lukas mendapati dirinya memejamkan mata sejenak, hanya untuk mendengarkan.

Judite mengejar kupu-kupu, kupu-kupu biru kecil dengan sayap berkilau yang memantulkan sinar matahari. Dia tidak pernah menangkapnya, tapi dia tampaknya tidak keberatan. Kegembiraannya ada pada pengejaran itu sendiri.

Lukas memperhatikan semuanya.

Keluarganya. Padang rumput terbuka. Matahari yang bergerak melintasi langit. Bayangan yang memanjang.

’Aku menghafal setiap momen.’ Pikirnya.

’Setiap tawa. Setiap kata. Setiap tatapan.’

’Saat aku dewasa nanti, aku ingin mengingat hari ini.’

Menjelang sore, matahari mulai terbenam, melukis langit jingga dan merah muda.

Mereka membereskan barang-barang mereka, selimut, keranjang kosong, dan sisa makanan yang akan dibawa pulang untuk hewan-hewan. Judite membawa toples kue. Beberapa masih tersisa, dan dia bersumpah dia "tidak akan memakan semuanya dalam perjalanan pulang, cuma beberapa saja."

Clavor memeriksa hutan sekali lagi, melihat ke pepohonan, sungai kecil, dan jalan setapak yang kembali.

"Tidak ada bahaya." Nyatanya.

"Kita bisa pergi."

Mereka kembali ke mansion melalui jalur yang sama, tetapi hutan tampak berbeda di senja hari. Bayang-bayang lebih panjang. Warnanya lebih hangat. Burung-burung bernyanyi dengan lagu yang berbeda, lebih lambat dan lebih lembut.

Lukas membawa hadiah-hadiahnya dengan hati-hati.

Belati itu terbungkus kulit, terselip di bawah lengannya.

Kalung perak di lehernya.

Toples kue hampir kosong. Judite telah memakan beberapa lagi di sepanjang jalan meskipun sudah berjanji.

’Satu tahun.’

Dia menatap langit jingga, pepohonan yang bergoyang ditiup angin, keluarganya yang berjalan di depannya.

’Satu tahun di dunia ini.’

’Dan masih banyak yang menanti di depan.’

Dia tersenyum.

Tilbo, di bahu kirinya, menggerakkan antenanya dengan lembut.

Prata, di bahu kanannya, mengangkat satu kaki ke arah matahari terbenam.

Dan keluarga Dmond pulang ke rumah.

Ulang tahun pertama itu sederhana, hanya keluarga, piknik di hutan, dan beberapa hadiah.

Namun bagi Lukas, hari itu menandai awal sejati dari perjalanannya.

— End of Chapter 55
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 55 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 55. Please respect spoilers from other chapters.
Aku Membangun Kebun Binatang Suci di Dunia Lain — Chapter 55 — Novtoon