Back to detail
Aku Membangun Kebun Binatang Suci di Dunia Lain
Chapter 58 of 73

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 585 min read1.090 words

Bab 58: Hubungan dengan Prata

Terrarium itu adalah kotak kaca besar berisi tanah, ranting, dan dedaunan yang dikumpulkan Lukas dari taman dalam. Tutupnya terbuat dari kayu dengan lubang ventilasi, diamankan oleh kait logam kecil.

Namun, malam itu, satu sisi tutupnya dibiarkan sedikit terbuka.

Lukas lupa mengunci salah satu kaitnya.

Prata bergerak perlahan.

Kaki-kakinya yang panjang dan bersendi menyentuh tepi tutup yang sedikit terbuka. Ia menguji celah itu dengan satu kaki depannya, merasakan jaraknya. Kemudian, dengan keanggunan yang senyap, gerakan yang cair dan berkesinambungan tanpa keraguan, ia keluar dari terrarium.

Laba-laba itu berjalan melintasi meja.

Kaki-kakinya menyentuh kayu yang dipoles dengan ringannya yang hampir seperti etereal. Tak ada suara yang dihasilkan. Tak ada goresan di permukaan.

Ia turun melalui salah satu kaki meja.

Kaki-kakinya mencengkeram kayu yang kasar, menemukan tonjolan-tonjolan kecil dan retakan yang tak pernah Lukas sadari. Gerakannya lambat dan penuh perhitungan.

Kaki-kakinya menyentuh karpet lembut di lantai.

Karpet itu terbuat dari wol tebal, yang sepenuhnya meredam suara langkahnya. Prata bergerak di atasnya seperti bayangan, hitam kontras dengan kain pucat, hampir tak terlihat dalam kegelapan.

Ia naik ke atas tempat tidur.

Satu per satu kaki, mencengkeram kain selimut. Gerakannya begitu lembut hingga Lukas tak merasakan apa pun. Tilbo, di atas bantal, tidak bergerak.

Prata mencapai dada Lukas dan berhenti.

Kedelapan matanya tertuju pada wajah damai bocah itu. Cahaya bulan samar masuk melalui jendela, memantul di matanya seperti bintang-bintang hitam kecil. Rambut perak di tubuhnya berpendar lembut.

Lima detik berlalu.

Lalu sesuatu terjadi.

Sebuah energi misterius dan tak dikenal muncul entah dari mana.

Ini tidak seperti hubungan dengan Tilbo. Hubungan itu tadi eksplosif, gelombang energi murni yang membanjiri tubuh Lukas, membakar otot dan tulangnya, memberinya kekuatan bawaan sekaligus.

Kali ini berbeda. Lebih halus. Lebih senyap.

Seperti aliran perak hangat yang mengalir di antara mereka berdua, tak terlihat oleh mata biasa namun teraba bagi apa pun yang mampu merasakannya. Energi itu membungkus dada Lukas dan tubuh Prata, membentuk garis cahaya tak terlihat di antara mereka, terang dan berdenyut lembut, detak, detak, detak, dalam ritme yang lambat dan stabil.

Lukas, yang tertidur lelap, tidak menyadari apa pun.

Tubuhnya hanya gemetar sekejap, getaran menjalar di tulang punggungnya, melewati lengan dan kakinya, seolah ia sedang bermimpi.

Mungkin ia memang bermimpi.

Mungkin di suatu tempat jauh di dalam kesadarannya, ia merasakan sesuatu.

Namun ia tidak terbangun.

Hubungan itu berlangsung selama beberapa detik.

Mungkin sepuluh.

Mungkin lima belas.

Lalu lenyap sepenuhnya, seolah tak pernah ada. Garis cahaya perak itu memudar. Energinya menghilang ke udara. Ruangan kembali sunyi dan gelap.

Prata tetap tak bergerak untuk beberapa saat.

Kepalanya sedikit miring, seolah sedang memproses sesuatu. Kedelapan matanya bergerak, tidak serentak, tapi satu per satu, seolah mereka sedang "memindai" ruangan.

Kemudian, seolah tak terjadi apa-apa, ia turun dari dada Lukas. Ia menyebrangi tempat tidur, menuruni selimut, melintasi karpet, memanjat kaki meja, dan kembali ke terrarium.

Ia menutup tutupnya sendiri dengan satu kaki.

Kait logamnya berbunyi klik pelan pada tempatnya.

Lukas terus tidur.

Dadanya naik turun dalam ritme yang tenang. Wajahnya tetap rileks. Bibirnya masih sedikit terbuka.

Tilbo, di atas bantal, menggerakkan antenanya sekali.

Seolah ia merasakan sesuatu.

Namun tak lama kemudian ia kembali tenang dan beristirahat.

Malam berlangsung damai di kediaman Dmond.

Jangkrik terus bernyanyi di luar. Angin terus menggoyangkan pepohonan. Bulan terus bersinar melalui jendela, melukis ruangan dalam nuansa biru dan perak.

Namun sesuatu telah berubah.

Sesuatu yang tak terlihat.

Sesuatu yang Lukas, yang masih tidak sadar, tidak tahu apa-apa tentangnya.

Sebuah hubungan baru baru saja terbentuk.

...

Keesokan paginya, Lukas terbangun dengan sinar matahari menyinari langsung ke wajahnya.

Ia berkedip, bingung sejenak. Cahayanya kuat, lebih kuat dari biasanya. Ia duduk di tempat tidur, menggosok matanya dengan tangan mungilnya, dan menatap ke arah jendela.

Tirai terbuka.

"Judite..." gumamnya, suaranya serak karena kantuk.

"Kamu lupa menutup tirai kemarin..."

Namun Judite tidak ada di kamar.

Ia menguap, meregangkan tubuh, dan menatap ke arah terrarium Prata.

Laba-laba itu ada di dalam, tak bergerak seperti biasanya. Kedelapan matanya memantulkan sinar matahari.

"Selamat pagi, Prata." katanya dengan senyum kecil.

Prata menggerakkan satu kakinya perlahan.

Lukas tidak melihat sesuatu yang aneh.

'Dia tampak sama.'

Ia menguap lagi, meregangkan tubuh, dan berdiri. Ia mengenakan tunik sederhana dan berjalan menuju pintu. Mengulurkan tangannya, ia meraih gagang pintu.

Saat jari-jarinya menyentuh kayu, ia merasakan sesuatu yang aneh.

Sebuah hambatan samar.

Seolah pintunya... macet.

Ia mengerutkan kening dan menarik lebih keras.

Krek.

Lima serpihan kayu kecil terlepas bersama jari-jarinya, menempel seolah direkatkan oleh lem yang kuat.

Lukas membeku.

Matanya membelalak saat ia menatap serpihan-serpihan di tangannya.

"Apa... apaan?"

Ia tidak mengerti.

Kayu di pintu itu tadinya utuh, tapi sekarang ada lubang-lubang kecil dan serpihan yang menempel di jari-jarinya. Ia mencoba mengibaskannya, tapi serpihan itu tidak mudah lepas. Ia harus mencabutnya satu per satu dengan tangan satunya, merasakan kayu itu melawan seolah direkatkan di tempatnya.

Dengan tidak percaya, ia duduk di tepi tempat tidur, masih memegang serpihan-serpihan itu.

"Ini tidak masuk akal... aku baru saja menyentuh pintu..."

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap pintu yang rusak, lalu ke jari-jarinya.

Ada jejak sesuatu yang tipis, hampir tak terlihat, berkilau samar di bawah cahaya pagi.

Jaring laba-laba?

Benang-benang perak, sangat tipis, hampir mustahil dilihat.

Ia menyentuh nakas dengan ujung jarinya, hanya untuk mengujinya.

Menempel.

Jari-jarinya menempel pada kayu.

Saat ia menariknya, lebih banyak serpihan terlepas.

Lukas menatap tangannya sendiri, tercengang.

Kepanikan awal perlahan berubah menjadi kebingungan mendalam.

"Apa yang terjadi padaku?"

Ia menarik napas dalam-dalam lagi dan memejamkan mata sejenak. Ia fokus pada sensasi di jari-jarinya. Tekanan. Niat.

'Jangan menempel. Jangan menempel. Sentuh saja.'

Dengan usaha yang sangat kecil, hampir seperti napas sadar, ia berhasil.

Ia menyentuh meja lagi.

Jari-jarinya meluncur normal.

Tidak menempel.

Ia mengulangi tes beberapa kali.

Menyentuh. Fokus. Melepaskan.

Menyentuh lebih keras. Melepaskan.

Kayu itu tetap utuh.

Lukas duduk di tempat tidur selama satu menit yang panjang, menatap tangannya sendiri seolah tangan itu milik orang lain.

"Jaring laba-laba... atau sesuatu yang mirip." akhirnya ia gumam.

"Daya rekat... Produksi benang..."

Matanya beralih ke terrarium Prata.

Laba-laba itu tetap tak bergerak, namun kedelapan matanya seolah sedang mengawasinya.

Sebuah getaran menjalar di tulang punggung Lukas.

Bukan ketakutan.

Kegembiraan bercampur ketidakpercayaan.

"Prata... apakah kau yang memberiku ini?"

Ia mengulurkan satu tangan ke arah laba-laba itu.

Prata segera naik ke tangannya, persis seperti yang selalu ia lakukan.

Lukas menguji lagi. Ia menyentuh meja dengan ujung jarinya.

Tidak ada.

Ia menekan lebih keras.

Tidak ada. Lalu ia berpikir untuk menempel.

Fokus padanya. Jari-jarinya menempel pada kayu.

Saat ia menariknya, serpihan-serpihan kecil ikut terlepas.

Tawa kecil keluar dari bibirnya, hampir tidak percaya. Lukas duduk di tempat tidur, jantungnya berdebar kencang.

Sebuah kemampuan baru. Sebuah hubungan yang tak pernah ia sadari telah terbentuk selama malam hari.

— End of Chapter 58
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 58 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 58. Please respect spoilers from other chapters.
Aku Membangun Kebun Binatang Suci di Dunia Lain — Chapter 58 — Novtoon